Lain ketika dipengaruhi oleh Eros Djarot, Harry Sabar, Yockie Soeryoprayogo, lagu-lagu cintanya Chrisye demikian rasional. Ingat lagu " Leny" dan " Romoe Julia ". Tapi siapa sih yang peduli dengan bait-bait begituan? manakala dua insan manusia dimabuk asmara? he-he.
Tapi entah kenapa ketika Chrisye dipengaruhi oleh para musisi di era 2000, saya malah semakin tak begitu suka. Terutama ketika digarap aransemen lagunya oleh Erwin Gutawa. Hanya kesan megah dan warna-warni saja lagu-lagunya Chrisye. Lagu " Merpati Putih " menjadi tak bernyawa. Hanya kemasannya saja yang menjadi wah dan mewah.
Saat Chrisye berpulang, saya juga meliput sejak dari rumah duka di Jalan Asem Dua, Cipete hingga ke TPU Jeruk Purut, Kemang, Jakarta Selatan. Hal yang dramatis saya alami ketika saya mengemudikan mobil dari rumah duka menuju pemakaman, saya tak sengaja memilih gelombang radio Pesona FM Jakarta, yang sepanjang hari memutar lagu-lagu yang menjadi hitnya Chrisye.
Apalagi sesampainya di pemakaman, hujan turun dengan derasnya. Teringat saya dengan bait lagu Chrisye di lagu yang berjudul : " Selamat Jalan Kekasih " (Album : Metropolitan, Musica Studio 1983).
"Resah rintik hujan yang tak henti menemani. . . .
Sunyinya malam ini,sejak dirimu jauh dari pelukan.
Selamat jalan kekasih, kejarlah cita-cita. . ."
Ooh. . . .